Khutbah Idul Adha 1431 H

Khutbah Idul Adha 1431 H. PHBI Kota Salatiga di Lapangan Pancasila Salatiga :

 ‘IDUL QURBAN DAN SOLIDARITAS SOSIAL

Oleh, Drs. Miftahuddin, M.Ag*

 I

الله أكبر الله أكبر الله أكبر  الله أكبر الله أكبر الله أكبر  الله أكبر الله أكبر الله أكبر،

لآ إِلَهَ إِلاَّ الله، الله أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الله أَكْبَر كَبِـيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لآ إِلهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لآ إِلهَ إِلاَّ الله وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكاَفِرُوْنَ. لآ إِلهَ إِلاَّ الله، الله أكبر. الله أكبرُ وللهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ لِعِبَادِهِ حِرْزاً وَحِصْناً. وَجَعَلَ الْبَيْتَ الْعَتِيْقَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً، وَأَكْرَمَهُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى نَفْسِهِ تَشْرِيْفاً وَتَحْصِيْناً، وَجَعَلَ زِيَارَتَهُ وَالطَّوَافَ بِهِ حِجَاباً بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْعَذَابِ وَمَجْناً، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ اْلأَعْظَمُ اْلأَكْبَرُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ وَسَيِّدِ اْلأُمَّةِ. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ قَادَةِ الْحَقِّ وَسَادَةِ الْخَلْقِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Hadirin Jamaah ’Idul Adha yang dirahmati Allah,

Pada hari raya ini umat Islam mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid sebagai bentuk ungkapan syukur dan mengagungkan Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Allah menyayangi seluruh makhluk yang ada di dunia ini, Allah mengasihi hamba – hambanya yang beriman di akherat nanti.

Takbir, tahlil dan tahmid juga bentuk pengakuan atas keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan  diri kita. Singkat kata, kita ini makhluk yang dhaif (lemah), maka tidak pada tempatnya jikalau kita menyombongkan diri, baik terhadap sesama, apalagi terhadap Tuhan.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd,

Kaum muslimin – muslimat, pada hari ini juga sekitar dua juta umat Islam sedang melaksanakan ibadah haji memenuhi panggilan Allah, untuk mendapatkan keridloan-Nya. Kita doakan semoga saudara – saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji diberi kekuatan dan petunjuk oleh Allah, sehingga pulang ke negaranya masing – masing menjadi haji mabrur yang lebih meningkat ketakwaannya, lebih meningkat manfaatnya bagi umat manusia, lebih menyejukkan  bagi lingkungannya serta lebih peduli pada sesama.

Pada saat yang sama,  hari ini  saudara-saudara kita di Wasior, di sekitar lereng Gunung Merapi, di kaki Gunung Krakatau, di Kepulauan Mentawai serta beberapa tempat lainnya, sedang dirundung duka menerima musibah. Masing-masing akibat banjir bandang, semburan lahar panas, tsunami, dan berbagai bencana lainnya. Ada diantara saudara-saudara kita tersebut yang meninggal, menderita cacat fisik dan goncangan mental, kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan sanak saudara.

Terhadap saudara-saudara kita yang meninggal akibat bencana kita berdoa semoga Allah mengampuni dosanya dan menerima amal salihnya serta melapangkan jalan ke surga-Nya.Atas mereka yang cacat fisik dan mengalami trauma serta kehilangan rumah, harta benda dan kerabatnya, semoga diberi ketabahan dan kekuatan oleh-Nya menghadapi musibah, Amin.

 

Kaum muslimin, kaum muslimat rahimakumullah,

Bagi kita umat Islam, momentum ’idul qurban tahun ini seyogyanya dipakai sebagai spirit, pendorong untuk membangun solidaritas sosial. Manifestasi dari spirit tersebut antara lain diwujudkan dengan memberi santunan kepada para korban bencana alam dan juga menyembelih hewan qurban.

Ibadah qurban pada hari raya Idul Adha merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Hal ini seperti telah disinggung secara eksplisit oleh al-Qur’an dalam surat al-Kautsar ayat 2, yang berbunyi:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

”maka bersholatlah untuk Tuhanmu dan berkorbanlah”

Selain mempunyai landasan normatif di atas, ibadah qurban juga mempunyai landasan historisnya. Salah satunya adalah yang telah dilakukan oleh bapaknya agama-agama samawi yakni nabi Ibrahim. Seperti yang tercatat dalam sejarah Islam bahwa Ibrahim  adalah sosok nabi yang mempunyai perasaan cinta yang tinggi kepada Allah. Perasaan cintanya kepada Allah itu ia implementasikan dengan menyantuni para faqir miskin dalam bentuk qurban. Karena besarnya cinta Ibrahim kepada Tuhannya itu, bukan hanya seluruh binatang ternaknya yang ia jadikan qurban, bahkan putranya yang sangat ia cintai pun, Ismail, juga  rela ia jadikan qurban demi persembahan cintanya kepada Allah SWT. Namun meskipun demikian, semangat berqurban Ibrahim itu diterima Allah, maka Ismail yang hendak dibuat qurban tersebut akhirnya diganti dengan kambing.

Peristiwa ini diabadikan oleh Allah alam surat As-Shaffat: 102, yang berbunyi:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

”maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama sama Ibrahim, Ibrahim berkat: wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu. Ismail menjawab: wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaalah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd,

Pada prinsipnya ibadah qurban yang sudah mentradisi ratusan tahun ini bukan hanya sebuah ritual suci tahunan yang hampa dari nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Justru kalau kita bercermin dari jejak Ibrahim di atas, qurban merupakan sebuah ibadah sosial yang dijiwai dan disemangati oleh nilai-nilai tauhid. Ia merupakan salah satu dimensi tauhid yang mempunyai akar ilahiyah yang sifatnya vertikal–transendental (hablumminallah) tetapi pada taraf implementasinya ia justru berorientasi pada wilayah kemanusiaan yang sifatnya sosial-horisontal (hablumminannas). Artinya, di dalam qurban tersirat makna bahwa tauhid dan nilai-nilai keimanan kepada Tuhan harus diejawantahkan dalam bentuk solidaritas sosial.  Dengan demikian, Tauhid bukan hanya sekedar konsep teologis yang melangit dan melulu berurusan dengan Allah semata, tetapi lebih dari itu juga bisa membumi dan menjadi faktor dominan untuk melakukan peningkatan kehidupan bermasyarakat.

Dalam maknanya yang lebih luas, semangat sosial ibadah qurban di atas harus diorientasikan untuk membangun solidaritas sosial di tengah kehidupan masarakat. Sebab dalam konteks kehidupan sekarang ini semakin terlihat jelas banyakanya sikap individualis dan perilaku egois dalam masyarakat. Sikap kasih sayang dan solidaritas yang menjadi salah satu inti ajaran Islam mulai tergerus oleh perkembangan zaman.

 

Kaum muslimin, kaum muslimat rahimakumullah,

Kalau kita melihat realitas sosial sekarang ini –sekali lagi–, agaknya semangat  solidaritas sosial masih jauh panggang dari api. Yang sering terjadi dan bahkan yang telah mulai melembaga menjadi tradisi adalah sikap individualis dan mementingkan diri sendiri. Bahkan lebih ironis lagi dalam memperjuangkan kepentingan diri sering meninggalkan kaidah-kaidah moral keagamaan, dan cenderung menghalalkan segala macam cara yang penting dapat tercapai tujuan. Akibatnya dapat kita saksikan, sikap saling menghormati, saling membantu, saling menolong, menjadi makin sedikit dijumpai masyarakat kita. Sebaliknya sikap egois, permusuhan, kekerasan bahkan kesewenang-wenangan kepada orang lain, makin banyak. Mencermati kecenderungan gejala tersebut, maka semangat ’idul qurban yang sarat dengan ajaran kasih sayang (rahmah) agaknya perlu dipertegas kembali formatnya, agar menjadi landasan teologis bagi gerakan solidaritas sosial.

Di sinilah perlunya semangat qurban dalam fungsinya sebagai penggerak solidaritas sosial digaungkan lagi sebagaimana yang pernah terjadi di era nabi Ibrahim. Untuk menjadikan qurban sebagai penggerak solidaritas sosial, maka aktualisasi qurban tidak cukup  kita manifestasikan dalam wujud penyembelihan hewan ternak setahun sekali pada hari raya Idul Adha. Prinsip dasar dan tujuan utama dari solidaritas sosial dalam Islam adalah terbangunnya masyarakat yang saling mengasihi dan menyayangi di bawah nilai – nilai kemanusiaan dan keagamaan. Dengan semangat ini maka yang terpenting dari ibadah qurban adalah terwujudnya kesadaran sosial kita terhadap saudara-saudara kita sesama manusia.

Kesadaran sosial tersebut saat ini menemukan meomentum kongkritnya antara lain dalam bentuk memberikan bantuan yang bisa meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa bencana serta lebih luas lagi bagi yang membutuhkan. Kesadaran sosial semacam itu merupakan bentuk dari substansi qurban yang erat kaitanya dengan kepedulian sosial. Oleh karena itu semangat sosial seperti itulah yang penting dan perlu dipraktikkan dan ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari – hari oleh umat Islam. Dalam hal ini Rasulullah pernah mengingatkan: “Laisa minna man lam yahtamma bi amril muslimin”, bahwa tidak termasuk umatku (Nabi Muhammad SAW) mereka yang tidak peduli terhadap urusan umat Islam. Sabda Nabi ini dapat menjadi argumen teologis bagi umat Islam untuk mendahulukan urusan umat yang mendesak dan lebih manfaat bagi umat yang sangat membutuhkan. Dari perspektif inilah agaknya fiqih prioritas (fiqh al-ula) menjadi penting untuk dikedepandan. Prinsip umumnya, ibadah yang lebih bermanfaat dan lebih mendesak untuk umat menjadi sesuatu yang didahulukan dari pada ibadah yang lain.

Logika fiqih tersebut menurut hemat kami, dapat dipakai untuk membangun kesadaran sosial atas korban bencana saat ini. Misalnya seseorang yang sudah berniat untuk membeli hewan qurban, memprioritaskan uangnya tersebut untuk disalurkan kepada saudara-saudara kita yang sedang di pengungsian. Tentu ini artinya menyembelih hewan qurban bukan berarti tidak penting, tetapi untuk situasi saat ini yang lebih aslah adalah menyalurkan uangnya untuk membantu meringankan penderitaan korban bencana. Kalau mau pendapat aman, tentu saja yang terbaik adalah melakukan ibadah penyembelihan qurban, dan pada saat yang sama menyumbangkan uang atau sejenisnya kepada korban bencana.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd,

Ibadah qurban yang dilakukan hendaklah dipahami dalam makna yang luas, yakni dari aspek hikmah hukum (hikmatut tasyri’)nya. Yang kita persembahkan kepada Allah bukan lah hewan kurbannya, akan tetapi lebih kecintaan kita kepada Allah dengan mengikuti perintah-perintah-Nya. Jadi yang akan kita peroleh di hadapan Allah adalah pahala dan ketulusan ibadah kita.

Ada sindiran dari Jalaluddin Rahmat, pada sebuah pengajian terdapat ibu – ibu yang menolak untuk kurban bersama satu ekor sapi untuk tujuh orang bukan muhrim. Alasannya karena nanti di akherat kalau ibu tersebut naik sapi bertuju tidak sah atau akan batal.Tentu anekdot ini harus kita ambil pelajarannya bahwa ibadah qurban secara berjamaah yang nanti akan kita peroleh di sana adalah ganjaran dari Allah dalam bentuk keridhoan-Nya.

 

Kaum muslimin, kaum muslimat rahimakumullah,

Pesan moral yang ingin kami sampaikan dalam khutbah ini adalah:

–         Marilah kita laksanakan qurban dalam makna khusus maupun umum yakni menyembelih hewan qurban dan meningkatkan amaliah sosial kita kepada sesama dalam bentuk kepedulian terhadap sesama.

–         Marilah kita berkorban sesuai dengan kedudukan dan profesi masing – masing: pemimpin berkorban dengan memberikan keteladanan dan kebijaksanaan, orang tua berkorban dengan cara mendidik putra-putrinya agar menjadi anak yang sholeh dan beriman, anak–anak berkorban dengan cara belajar yang rajin dan penuh keuletan, dan seterusnya.

–         Singkat kata marilah kita lakukan kebaikan sebagaimana yang diajarkan dalam semangat ’idul qurban yang docontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail alaihimassalam.

–         Mari kita bantu saudara-saudara kita yang sedang dirundung bencana, dengan mendoakan dan memberikan bantuan kepada mereka, serta memberikan dorongan/pendampingan mental spiritual bagi para korban.

Mudah-mudahan ’idul qurban kali ini bisa mengetuk hati nurani kita untuk bisa berbuat baik dan menyayangi sesama. Sehingga dengan spirit ini kehidupan kita menjadi lebik baik, lebih bermakna bagi diri kita, keluarga kita dan masyarakat. Pada gilirannya, tatanan masyarakat kita menjadi lebih damai, sejahtera dan makmur (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur) serta berperadaban ’adiluhung’ (madinah al-fadhilah).

Akhirnya marilah kita bermohon kepada Allah SWT agar senantiasa dikarunia iman Islam yang kuat, diberi kekuatan untuk melaksanakan kebaikan – kebaikan.

أّعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِماا فيه من الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

II

اَللهُ أَكْبَرُ،  اَللهُ أَكْبَرُ،  اَللهُ أَكْبَرُ،

اَللهُ أَكْبَرُ،  اَللهُ أَكْبَرُ،  اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كِبِيرًا، وَاَلْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الأَضَاحِى مِنْ أَجْلِ الْقُرْبَانِ. وَضَاعَفَ لِعَامِلِهَا الحَسَنَاتِ. وَكَانَتْ سَبَبًا لِدُخُوْلِ أَهْلِهَا الْجَنَّاتِ. أشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ فَازُوْا بِالْجَنَّةِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَيْثُ مَا كُنتُمْ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَ ثَنىَّ بِالْمَلاَئِكَةِ اْلمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَ ثَلَّثَ بِكُمْ فَقَالَ : إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَـا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ َالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذُكُرُوْا اللهَ يَذُكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَاسْئَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعُطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 


* Dosen STAIN Salatiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>