Khutbah Idul Fitri 1428 H

Khutbah Idul Fitri 1428 H Panitia Bersama Masjid Al-Hikmah Mrican dan Mushola At- Tarbiyah Ledok di Lapangan SD Ledok 2 Salatiga :

Membangun Persaudaraan

Oleh: Drs. Miftahuddin, M.Ag

(Dosen STAIN Salatiga)

 

Allahu Akbar, 3 x

Hadlirin jamaah shalat ‘Idul Fitri yang berbahagia.

Alhamdulillahirabbil ‘alamien, segala puji hanya milik Allah, Dzat yang Maha Rahman dan Rahim. Dia-lah Dzat yang melindungi, Dzat yang melembutkan hati, Dzat yang mengasihi dan menyayangi. Hanya kepada-Nya lah kita memohon bimbingan dan pertologan serta berserah diri.

 

Hadhirin – hadhirat rahimakumullah,

Hari ini merupakan hari kemenangan bagi kita Umat Islam, setelah kita berpuasa memerangi hawa nafsu. Selama Ramadhan kita sudah belajar bagaimana mengendalikan nafsu makan-minum, nafsu marah, nafsu serakah, nafsu mendengki teman, nafsu egoisme dan nafsu – nafsu buruk lainnya.

Mengapa kita harus belajar mengendalikan nafsu? Karena jika nafsu – nafsu tersebut tidak kita kendalikan, kita akan tergelincir pada keburukan – keburukan baik di dunia maupun di akherat.

Karena sesungguhnya, nafsu itu selalu mengajak kepada kerusakan, innan nafsa laammaaratum bissu’.

Oleh karena itu, marilah pelajaran mengendalikan hawa nafsu selama bulan Ramadhan, kita lanjutkan pada bulan – bulan yang akan datang, sehingga kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat  kita akan lebih baik, lebih meningkat pada masa – masa yang akan datang.

Mutiara – mutiara hikmah di Bulan Ramadhan marilah kita jadikan tonggak untuk membangun kesalehan kita kepada Allah (hablumminallah) dan sekaligus kesalehan kita terhadap sesama (hablum minannas). Sebagaimana telah kita lakukan bersama  pada bulan Ramadhan, beribadah kepada Allah dengan penuh keihlasan dan ber-shadaqah, serta ber-zakat mal maupun fithrah untuk membersihkan diri dan harta kita, sekaligus sebagai bagian dari upaya membangun kesalehan individual dan kesalehan sosial.

 

Hadhirin yang berbahagia,

Pada hari raya ini setiap umat Islam bergembira karena mendapatkan ampunan dan kasih sayang yang tiada terhingga dari Allah SWT. Digambarkan dalam hadits qudsi, sebagai berikut:

“Apabila orang – orang itu telah selesai berpuasa, pada bulan Ramadhan, lalu keluar rumah berbondong – bondong menuju shalat ‘id, maka Allah SWT berfirman: “Wahai malaikat-malaikat-Ku, setiap yang beramal tentu mengharap pahalanya, dan sekarang hamba-hambaku yang telah berpuasa sebulan penuh dan sekarang keluar menuju shalat hari raya, serta meminta pahala mereka, maka saksikanlah olehmu seklian bahwa Aku benar – benar telah mengampuni mereka”. Kemudian suatu panggilan memanggil: “Wahai umat Muhammad, kembalilah kalian ke rumah masing – masing setelah shalat ‘id, sesungguhnya kesalahan – kesalahan kalian telah diganti dengan kebaikan”. Lalu Allah SWT berfirman: “ wahai hamba – hambaku, kalian telah berpuasa untuk-Ku dan telah ber-hari raya untuk-Ku, maka bangkitlah kalian dalam keadaan telah mendapatkan ampunan”.

 

Kebahagiaan kita menyambut datangnya ‘Idul Fitri ini marilah dibarengi dengan sikap kita untuk mengagungkan asma Allah dengan bertakbir, bertahmid dan bertasbih. Ketahuilah bahwa seluruh jagad raya ini hakekatnya sedang bertasbih kepada Allah.

 

Allahu Akbar, 3 x Walillahilhamd

Idul Fitri mengandung empat arti: (1) kembali diperbolehkan berbuka atau makan minum pada siang hari; (2) kembali pada kesucian fitrah manusia sebagaimana bayi yang baru dilahirkan; (3) kembali meneguhkan keimanan kita pada agama Allah yang hanif (lurus); dan (4) kembali pada proses penciptan manusia yang menuntun pada sikap rendah hati kepada Allah maupun kepada sesama. Singkat kata idul fitri memberikan makna untuk kembali pada kesucian jiwa. Dengan jiwa yang bersih diharapkan akan mendatangkan kesejukan, ketenangan, kedamaian, persaudaraan dan kasih sayang.

 

Allahu Akbar, 3x Walillahilhamd.

Hadhirin jama’ah shalat ’id, rakhimakumullah.

Islam adalah agama kasih sayang, persaudaraan dan silaturrahmi. Islam datang untuk membawa rahmat bagi umat manusia dan seluruh alam. Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil alamien. Dengan kata lain, inti ajaran Islam adalah tauhid yang muatan pokoknya menata kehidupan individu dan masyarakat agar menjadi damai dan sejahtera di dunia maupun akherat.

Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengamalkan misi ajaran Islam yang luhur ini dengan memperkokoh ukhuwah atau persaudaraan baik persaudaraan dengan sesama manusia (ukhuwah basyariah), persaudaraan dengan sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah) maupun persaudaraan sesama muslim (ukhuwah Islamiyah).

Untuk bisa menjaga persaudaraan, maka diperlukan pra-syarat hati yang bersih dari penyakit. Diantara penyakit hati yang sering mengotori hati kita antara lain : (1) al-kidzbu atau suka berdusta; (2) al-ghibatu atau suka menggunjing; (3) an-namiimatu atau suka menjelekkan orang lain;  (4) al-yamiinuzzur atau bersumpah palsu; dan (5) an-nadharu bis syahwati atau melihat sesuatu dengan keinginan yang berlebihan.

Oleh karenanya ada beberapa nasehat yang diajarkan oleh para ulama (dalam Kitab Tambiihul Ghofiliin) untuk menjaga hati dan membangun persaudaraan yang dilandasi oleh firman Allah SWT:

  • Memelihara lisan supaya tidak menggunjing (Q.S. Al-Hujurat: 2);
  • Menghindari prasangka buruk  (Q.S. Al-Hujurat: 2);
  • Menghindari mengejek dan meremehkan orang lain Q.S. Al-Hujurat: 11);
  • Membatasi pandangan mata dari hal-hal yang terlarang;
  • Berkata dengan lemah lembut (Q.S. Al-An’am: 152);
  • Tidak berlebih – lebihan (Q.S Al-Isra’: 26); dan
  • Tidak menuntut keluhuran dan kebanggaan diri (Q.S Alqashas: 82).

Marilah kita jaga hati kita, agar dapat menerima nur (cahaya) Allah.

Marilah kita perkokoh persaudaraan sesama manusia, sesama bangsa, dan sesama muslim.

Marilah kita gunakan momentum ’Idul Fitri ini untuk mempererat tali silaturrahmi dengan anggota keluarga, kerabat, tetangga, dan handai tolan.

Marilah kita gunakan momentum 1 syawal ini untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah, baik ibadah yang mahdhah maupun yang ghoeru mahdhah.

 

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa dalam bimbingan-Nya, senantiasa mendapat kasih sayang-Nya dan senantiasa mendapatkan ampunan-Nya.

Amien ya rabbal ’alamien.

 


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>